Ilusi kulihat bayang-bayang yang seharusnya berwarna hitam
menjadi keabuan
Ilusi menjadikan eutimia serasa hipotimia
Ilusi keabuanku menjadikan siang serasa terus malam,
apatis, abulia, anoreksia,
menjadi sindrom pengikutnya
Ah, hanya ilusi
tapi kutilik lagi
seiring dengan bergantinya siang menjadi malam,
malam menjadi siang kembali
berjalan pula minggu ke minggu
bulan ke bulan
hingga berpuluh-puluh hari telah terlewati
Ilusi keabuan bermanifestasi sebagai ansietas
setiap ekspresi serasa berafek datar hingga sempit
Osilasi emosi serasa belum berhenti
Tanpa ada kepastian hati
namun alunan waktu terus tak lelah menanti
Muncullah delusi grandeur,
mengagungkan diri,
namun masih dalam border line normal
Semakin muncul sikap manusiawinya
hingga akhirnya memuncak pada suatu katalepsi,
ide yang tangensial sulit diutarakan
dan hipoaktivitas menjadi teman utamanya
Kini datanglah sang mediator
yang menjadikan ilusi keabuan menjadi kenyataan yang tegas: HITAM atau PUTIH
Ilusi keabuan hanyalah kekhilafan mental dengan segala keterbatasannya
Saatnya
bangkit dari sirkumstansialnya gelisah
Saatnya
tegas menghapus depersonalisasi diri
Saatnya
bangun untuk lepas dari derealisasi semu
Maka, hanya kepadaNyalah
segala bentuk pengakuan KeMaha-an diberikan
Berharap nantinya
Ilusi keabuan akan menjadi cerita hari yang pasti
Ilusi keabuan berubah menjadi pelita hati
Semoga, semoga
nanti